Jamu
berupa ramuan tradisional sebagai salah satu upaya pengobatan telah dikenal
luas dan dimanfaatkan oleh masyarakat untuk tujuan : mengobati penyakit ringan,
mencegah datangnya penyakit, menjaga ketahanan dan kesehatan tubuh, serta untuk
tujuan kecantikan. Salah satu jenis jamu yang terdapat di Yogyakarta adalah jamu
cekok khusus untuk anak-anak. Tujuan tulisan ini adalah
mengetahui ramuan yang terkandung dalam jamu cekok serta mengetahui
manfaat jamu cekok terhadap peningkatan nafsu
makan dan kesehatan anak. Konsumen jamu cekok sebagai
informan penelitian ini adalah lima keluarga yang memiliki anak usia balita.
Keterangan tambahan diperoleh dari pemilik warung jamu
cekok dan seorang ahli tanaman obat tradisional.
Penelitian ini dilakukan dari bulan Februari hingga Juni tahun 2003.
Pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan wawancara mendalam serta
sumber pustaka yang relevan. Bahan utama jamu cekok adalah empon-empon yang
terdiri dari Curcuma xanthorriza Robx (temulawak), Zingiber
americans L. (lempuyang emprit), Tinospora tuberculata Beume (brotowali),
Curcuma aeruginaosa Robx (temu ireng) serta Carica papaya L. (papaya). Alasan
utama orang tua mencekok anaknya karena hilangnya nafsu makan yang
dikhawatirkan akan menyebabkan terganggunya pertumbuhan dan perkembangan anak.
Manfaat utama pengobatan ini adalah mengembalikan napsu makan anak disamping
sebagai cara penyembuhan mencret, perut kembung, cacingan serta batuk dan
pilek. Pengaruh faktor kepercayaan atau sugesti akan khasiat jamu
cekok mengakibatkan konsumen menyatakan kepuasannya
setelah mencekokkan anaknya. Kepercayaan ini tidak lepas dari pengaruh tradisi
yang diturunkan dari generasi ke generasi. Selain itu pengobatan tradisional
dengan memanfaatkan bahan-bahan alam dianggap relatif lebih aman dan harganya
terjangkau bagi masyarakat luas. Kebiasaan minum jamu cekok juga menunjukkan
adanya kecenderungan masyarakat kembali ke alam (back to nature) sebagaimana
tradisi yang telah dimiliki oleh nenek moyang mereka.
No comments:
Post a Comment