Sunday, 17 November 2013

Jamu ( HERB )

 
Jamu berupa ramuan tradisional sebagai salah satu upaya pengobatan telah dikenal luas dan dimanfaatkan oleh masyarakat untuk tujuan : mengobati penyakit ringan, mencegah datangnya penyakit, menjaga ketahanan dan kesehatan tubuh, serta untuk tujuan kecantikan. Salah satu jenis jamu yang terdapat di Yogyakarta adalah jamu cekok khusus untuk anak-anak. Tujuan tulisan ini adalah mengetahui ramuan yang terkandung dalam jamu cekok serta mengetahui manfaat  jamu cekok terhadap peningkatan nafsu makan dan kesehatan anak. Konsumen jamu cekok sebagai informan penelitian ini adalah lima keluarga yang memiliki anak usia balita. Keterangan tambahan diperoleh dari pemilik warung jamu cekok dan seorang ahli tanaman obat tradisional. Penelitian ini dilakukan dari bulan Februari hingga Juni tahun 2003. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan wawancara mendalam serta sumber pustaka yang relevan. Bahan utama jamu cekok adalah empon-empon yang terdiri dari Curcuma xanthorriza Robx (temulawak), Zingiber americans L. (lempuyang emprit), Tinospora tuberculata Beume (brotowali), Curcuma aeruginaosa Robx (temu ireng) serta Carica papaya L. (papaya). Alasan utama orang tua mencekok anaknya karena hilangnya nafsu makan yang dikhawatirkan akan menyebabkan terganggunya pertumbuhan dan perkembangan anak. Manfaat utama pengobatan ini adalah mengembalikan napsu makan anak disamping sebagai cara penyembuhan mencret, perut kembung, cacingan serta batuk dan pilek. Pengaruh faktor kepercayaan atau sugesti akan khasiat jamu cekok mengakibatkan konsumen menyatakan kepuasannya setelah mencekokkan anaknya. Kepercayaan ini tidak lepas dari pengaruh tradisi yang diturunkan dari generasi ke generasi. Selain itu pengobatan tradisional dengan memanfaatkan bahan-bahan alam dianggap relatif lebih aman dan harganya terjangkau bagi masyarakat luas. Kebiasaan minum jamu cekok juga menunjukkan adanya kecenderungan masyarakat kembali ke alam (back to nature) sebagaimana tradisi yang telah dimiliki oleh nenek moyang mereka.
 
    Salam tumbuh liar di hutan dan pegunungan, atau ditanam di pekarangan dan sekitar rumah. Tanaman ini dapat ditemukan dari dataran rendah sampai pegunungan dengan ketinggian 1,800 m dpi. Pohon bertajuk rimbun, tinggi mencapai 25 m, berakar tunggang, batang bulat, permukaan licin. Daun tunggal, letak berhadapan, bertangkai yang panjangnya 0,5-1 cm. Helaian daun bentuknya lonjong sampai elips atau bundar telur sungsang, ujung meruncing, pangkal runcing, tepi rata, panjang 5-15 cm, lebar 3-8 cm, pertulangan menyirip, permukaan atas licin berwarna hijau tua, permukaan bawah warnanya hijau muda. Daun bila diremas berbau harum. Bunganya bunga majemuk tersusun dalam malai yang keluar dari ujung ranting, warnanya putih, baunya harum. Buahnya buah buni, bulat, diameter 8-9 mm, warnanya bila muda hijau, setelah masak menjadi merah gelap, rasanya agak sepat. Biji bulat, penampang sekitar 1 cm, warnanya coklat. Salam ditanam untuk diambil daunnya sebagai pelengkap bumbu dapur, kulit pohonnya dipakai sebagai bahan pewarna jala atau anyaman bambu. Perbanyakan dengan biji, cangkok atau stek.
Nama Lokal :
Gowok, (Sunda), manting (Jawa), kastolam (Kangean); Meselangan, ubar serai (Melayu),; Salam (Indonesia, Sunda, Jawa, Madura);
Penyakit Yang Dapat Diobati :
Diare, Maag, Kencing manis, Mabuk akibat alkohol;
Pemanfaatan :
BAGIAN YANG DIPAKAI: Daun, kulit batang, akar dan buah.
KEGUNAAN:
- Diare.
- Sakit maag (gastritis).
- Kencing manis.
- Mabuk akibat alkohol.
PEMAKAIAN:
Untuk minum: 7-20 lembar daun, direbus.
Pemakaian luar: Kulit batang, daun atau akar setelah dicuci bersih digiling halus sampai seperti bubur. Digunakan untuk pemakaian setempat pada infeksi kulit seperti kudis dan gatal-gatal.
CARA PEMAKAIAN:
1. Diare:
    15 g daun dicuci bersih lalu direbus dengan 1 gelas air bersih selama 15 menit. 
    Tambahkan sedikit garam. Setelah dingin disaring lalu diminum.
2. Kencing manis:
    7 lembar daun salam dicuci bersih lalu direbus dengan 3 gelas air bersih sampal  
    tersisa 1 gelas. Setelah dingin disaring, dibagi untuk 2 kali minum.
3. Sakit maag:
    15-20 lembar daun dicuci bersih, rebus dengan 1/2 liter air sampai mendidih.
    Tambahkan gula merah secukupnya. Minum sebagai teh setiap hari, sampai rasa
    penuh dan perih di lambung menghilang.
4. Mabuk akibat alkohol:
    1 genggam buah salam yang sudah masak dicuci bersih lalu ditumbuk sampai halus.    
    Peras dan saring, lalu diminum.
5. Kudis, gatal:
    Daun atau kulit batang atau akar, dicuci bersih lalu digiling halus sampai menjadi
    adonan seperti bubur. Balurkan ketempat yang sakit.
Komposisi :
SIFAT KIMIAW] DAN EFEK FARMAKOLOGIS: Daun: Rasa kelat, wangi. Adstringen. KANDUNGAN KIMIA: Minyak atsiri (0,05 %) mengandung sitral dan eugenol, tanin dan flavonoida.
Synonym: syzygium polyanthum.
Common name: Indonesian bay leaf, salam blad, daun salam manting, serah, kelat samak, Indonesische lorbeerblatt.
Family: myrthaceae (myrtle family).
Salam is a deciduous tropical tree with spreading branches and simple leaves, originally from Indonesia; it is also growing abundantly in Suriname.
Indonesian bay leaf can reach a height of 90 feet although 60 feet is more common.
The flowers are pink and somewhat fragrant while the fruits are round; red at first, later brown.
The seeds are small and brown.
The dried brown leaves of daun salam are aromatic and somewhat sour; used as a spice in the Indonesian - as well the Surinam kitchen; they are applied to meat.
The main phytochemicals in this plant are: eugenol, citral and methylchavicol.
T
he leaves contain flavonoids, tannins and alkaloids.

Hardiness: USDA zone 10 - 11.
Propagation: seeds and cuttings.
Culture: full sun, good drained soil.
Plant in frost free areas.